Rabu, 10 November 2010

TUGAS BUAT SISWA MTS MT KLS IX

BUAT RANGKUMAN DARI BACAAN DIBAWAH
PANDAWA LIMA
Pandawa adalah sebuah kata dari bahasa Sanskerta (Dewanagari: पाण्डव; Pāṇḍava), yang secara harfiah berarti anak Pandu (Sanskerta: पाण्डु, ;Pāṇḍu), yaitu salah satu Raja Hastinapura dalam wiracarita Mahabharata. Dengan demikian, maka Pandawa merupakan putra mahkota kerajaan tersebut. Dalam wiracarita Mahabharata, para Pandawa adalah protagonis sedangkan antagonis adalah para Korawa, yaitu putera Dretarastra, saudara ayah mereka (Pandu). Menurut susastra Hindu (Mahabharata), setiap anggota Pandawa merupakan penjelmaan (penitisan) dari Dewa tertentu, dan setiap anggota Pandawa memiliki nama lain tertentu. Misalkan nama "Werkodara" arti harfiahnya adalah "perut serigala". Kelima Pandawa menikah dengan Dropadi yang diperebutkan dalam sebuah sayembara di Kerajaan Panchala, dan memiliki (masing-masing) seorang putera darinya.
Para Pandawa merupakan tokoh penting dalam bagian penting dalam wiracarita Mahabharata, yaitu pertempuran besar di daratan Kurukshetra antara para Pandawa dengan para Korawa serta sekutu-sekutu mereka. Kisah tersebut menjadi kisah penting dalam wiracarita Mahabharata, selain kisah Pandawa dan Korawa main dadu.
Para Pandawa terdiri dari lima orang pangeran, tiga di antaranya (Yudistira, Bima, dan Arjuna) merupakan putra kandung Kunti, sedangkan yang lainnya (Nakula dan Sadewa) merupakan putra kandung Madri, namun ayah mereka sama, yaitu Pandu.


Wangsa
Yadawa
Dinasti
Kuru
Raja
Madra


Surasena
Byasa
Ambalika
Salya


Kunti
Pandu
Madri

Yudistira
Bima
Arjuna
Nakula
Sadewa


[sunting] Penitisan

Menurut tradisi Hindu, kelima putra Pandu tersebut merupakan penitisan tidak secara langsung dari masing-masing Dewa. Hal tersebut diterangkan sebagai berikut:

Perang di Kurukshetra

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Perang di Kurukshetra
Bagian dari wiracarita Mahabharata
Perang di Kurukshetra
Lukisan yang menggambarkan pertempuran antara Arjuna melawan Bisma saat perang di Kurukshetra meletus.
Tanggal tidak pasti, ± tahun 3000 SM - 1000 SM[1]
Lokasi Distrik Kurukshetra, negara bagian Haryana, India Utara.
Hasil dimenangkan pihak Pandawa
Pihak yang terlibat
Lima putra Pandu (Pandawa) dan sekutunya, dipimpin oleh Yudistira Seratus putra Dretarastra (Korawa) dan sekutunya, dipimpin oleh Duryodana
Komandan
Drestadyumna- † Bisma- †
Drona- †
Karna- †
Salya- †
Aswatama
Kekuatan
7 Aksauhini (7 divisi)
Total ± 1.530.900 tentara
11 Aksauhini (11 divisi)
Total ± 2.405.700 tentara
Jumlah korban
Hampir semua prajurit.
Hanya 7 kesatria yang bertahan hidup: lima Pandawa, Yuyutsu, dan Satyaki
Hampir semua prajurit.
Hanya 3 kesatria yang bertahan hidup: Aswatama, Krepa, dan Kertawarma
Perang di Kurukshetra (Sanskerta: कुरुक्षेत्रयुद्ध, ;Kurukshetrayuddha), yang merupakan bagian penting dari wiracarita Mahabharata, dilatarbelakangi perebutan kekuasaan antara lima putra Pandu (Pandawa) dengan seratus putra Dretarastra (Korawa). Dataran Kurukshetra yang menjadi lokasi pertempuran ini masih bisa dikunjungi dan disaksikan sampai sekarang. Kurukshetra terletak di negara bagian Haryana, India.
Pertempuran tersebut tidak diketahui dengan pasti kapan terjadinya, sehingga kadang-kadang disebut terjadi pada "Era Mitologi". Beberapa peninggalan puing-puing di Kurukshetra (seperti misalnya benteng) diduga sebagai bukti arkeologinya. Menurut kitab Bhagawadgita, perang di Kurukshetra terjadi 3000 tahun sebelum tahun Masehi (5000 tahun yang lalu) dan hal tersebut menjadi referensi yang terkenal.[2]
Meskipun pertempuran tersebut merupakan pertikaian antar dua keluarga dalam satu dinasti, namun juga melibatkan berbagai kerajaan di daratan India pada masa lampau. Pertempuran tersebut terjadi selama 18 hari, dan jutaan tentara dari kedua belah pihak gugur. Perang tersebut mengakibatkan banyaknya wanita yang menjadi janda dan banyak anak-anak yang menjadi anak yatim. Perang ini juga mengakibatkan krisis di daratan India dan merupakan gerbang menuju zaman Kaliyuga, zaman kehancuran menurut kepercayaan Hindu.


Kenalan dengan para Punakawan

Punakawan merupakan sebutan bagi empat orang abdi yang bertugas sebagai penasehat dan pemberi petuah bijak bagi para tokoh Pandawa. Mereka mendampingi para Pandawa dimanapun mereka berada, baik dalam susah maupun senang. Keempat Punakawan ini menggambarkan cipta, rasa, karsa, dan karya.
Semar

Semar memiliki nama lengkap Semar Badranaya. Badra berarti rembulan atau keberuntungan baik. Sedangkan Naya berarti prilaku bijaksana. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam sikap bijaksana tersimpan keberuntungan baik bak orang kejatuhan rembulan. Sering dikisahkan tokoh semar menjadi rebutan para raja karena dengan semar dipihaknya mereka selalu memiliki keberuntungan baik.
Semar digambarkan memiliki kekuatan tersembunyi, karena dianggap sebagai titisan dewa, sering menjadi tokoh penengah dan penyelamat. Meskipun hanya rakyat biasa dan seorang pembantu (punakawan), ia adalah pengayom bangsawan, khususnya keluarga Pandawa.
Cepot (Astrajingga)
cepot
Tokoh banyolan yang paling sering ditonjolkan para dalang wayang golek adalah Cepot.
Cepot alias Astrajingga adalah anak tertua dari Semar. Ibunya bernama Sutiragen. Tokoh ini memiliki sifat yang humoris, meskipun demikian lewat humor humornya dia memberikan nasehat petuah dan kritik sehingga ia menjadi pusat lelucon setiap pertunjukkan golek.
Lakonnya biasanya dikeluarkan oleh Dalang di tengah kisah untuk menyampaikan pesan bebas bagi pemirsa dan penonton baik itu nasihat maupun sindiran yang tentu saja disampaikan secara humor.




Dawala

Dawala merupakan Punakawan yang digambarkan memiliki hidung mancung, muka bersih, sabar, setia, dan penurut. Tetapi kurang cerdas dan kurang begitu trampil.
Biasanya dimunculkan bersamaan dengan Astrajingga alias Cepot dan Semar sebagai teman/partner humor




Gareng

Dalam Wayang golek tokoh Gareng adalah anak terakhir dari Semar. Sama seperti tokoh Astrajingga dan Dawala, tokoh Gareng biasanya dikeluarkan sebagai hiburan antara tokoh wayang dengan audiens.
Dengan adanya tokoh Punakawan, pagelaran cerita wayang menjadi lebih hidup karena ada dialog dan interaksi antara dalang (wayang) dengan audiens.
Tokoh Punakawan seringkali menjadi sentral dalam menyampaikan pesan dan nasehat agar lebih mudah dicerna oleh audiens.

TUGAS BUAT SISWA MTS MT KLS VIII

BUAT RANGKUMAN DARI BACAAN DIBAWAH INI
ASAL MULA BANDUNG
Wilayah yang sekarang kita sebut Bandung pertama kali masuk peta pada waktu Gubernur Jendral Raffles membangun Grootepostweg (Jalan Pos) di tahun 1810. Waktu itu Bandung bernama Kabupaten Tatar Ukur.

Daendels memerintahkan Bupati Tatar Ukur memindahkan ibukota Kabupatennya dari Krapyak ke arah utara sejauh 11 km sehingga pas berada di tepi Grootepostweg yang berpotongan dengan Sungai Cikapundung. Bupati Tatar Ukur waktu itu R. Wiranata Koesoemah II menyebut kabupaten baru ini dengan nama Bandong dengan ‘pusat pemerintahannya’ yang masih sangat sederhana di daerah Dalem Kaum sekarang. Beliau sendiri berjuluk Dalem Karanganyar.

Ada beberapa versi ibukota Kabupaten baru ini dinamakan Bandong. Yang pertama, adalah dari kata "bandung" yang dalam bahasa sunda artinya membendung aliran air, karena memang telah terjadi pembendungan sungai Citarum akibat letusan Gunung Tangkubanparahu dimana aliran lahar gunung menyumbat sungai sehingga terbentuk telaga yang luas. Yang kedua, dari kata "ngabandung" yang artinya berhadapan atau berdampingan, Talaga Purba Bandung bila dilihat dari Gunung Tangkubanparahu tampak seperti 2 danau yang berhadapan karena adanya penyempitan tepi danau di daerah Cimahi Selatan.
Pada dasarnya asal usul nama Bandung ini banyak sekali versinya.

Dalam buku tulisan Haryoto Kunto, dapat ditemukan bahwa kata Bandung, berasal dari kata Bandong, sesuai dengan penemuan sebuah negeri kecil oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva. Dan tercatat pula bahwa Dr. Andries de Wilde, seorang pemilik kebun kopi yang sangat luas di daerah ini, meminang seorang gadis dan kemudian menikahinya yang berasal dari Kampung Banong (di daerah Dago Atas).

Malah ada pula yang berpendapat Kata Bandung berasal dari sebuah nama pohon Bandong ‘Garcinia spec’ (Heyne : 1950 Jilid III, pada halaman 2233, menyebutkan bahwa Bandong ‘Garcinia spec’ sejenis pohon yang tingginya 10 - 15 m dan besar batangnya 15 - 20 cm, dengan batang tak bercabang. Pohon ini dieksploitasi setelah berumur 20 - 30 tahun, dengan cara menoreh kulit kayu sedalam 2 - 3 mm akan mengalirkan cairan kekuning-kuningan. Menurut Wiesner’s Rohstoffe digunakan untuk pengobatan, mewarnai pernis-pernis spirtus, lak emas ‘goudlak’, cat air dan fotografi. Jadi nama Bandung berasal dari Bandong yang sesuai dengan sebuah nama kampung yang telah ditemukan oleh seorang Mardijker bernama Julian de Silva di atas. (http://sundasamanggaran.blogspot.com)

Menurut penulis buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, T. Bachtiar, Bandung juga artinya adalah persahabatan/perdamaian. Berasal dari Bahasa Kawi, Bandung artinya bersama-sama, bersahabat, bersaing, mendampingi, dan saling tolong menolong.

Sebuah sejarah adalah sebuah proses yang panjang. Diceritakan dari mulut ke mulut. Kadang ditambahin, kadang dikurangin. Pada akhirnya banyak versi yang muncul menyertai perjalanan suatu sejarah sehingga kadang rancu mana yang benar dan mana yang salah. Tugas Mahanagari adalah menyampaikan berbagai macam versi tersebut, bukan memberitahu bahwa sejarah yang benar adalah 'ini' dan yang salah adalah 'itu.

 Mengenai asal-usul nama "Bandung", dikemukakan berbagai pendapat.
Sebagian mengatakan bahwa, kata "Bandung" dalam bahasa Sunda, identik
dengan kata "banding" dalam Bahasa Indonesia, berarti berdampingan.
Ngabanding (Sunda) berarti berdampingan atau berdekatan. Hal ini antara
lain dinyatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai
Pustaka (1994) dan Kamus Sunda-Indonesia terbitan Pustaka Setia (1996),
bahwa kata bandung berarti berpasangan dan berarti pula berdampingan.

Pendapat lain mengatakan, bahwa kata "bandung" mengandung arti besar
atau luas. Kata itu berasal dari kata bandeng. Dalam bahasa Sunda,
ngabandeng berarti genangan air yang luas dan tampak tenang, namun
terkesan menyeramkan. Diduga kata bandeng itu kemudian berubah bunyi
menjadi Bandung. Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa kata Bandung
berasal dari kata bendung.





Pendapat-pendapat tentang asal dan arti kata Bandung, rupanya berkaitan
dengan peristiwa terbendungnya aliran Sungai Citarum purba di daerah
Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus pada masa
holosen (± 6000 tahun yang lalu).

Akibatnya, daerah antara Padalarang sampai Cicalengka (± 30 kilometer)
dan daerah antara Gunung Tangkuban Parahu sampai Soreang (± 50
kilometer) terendam menjadi sebuah danau besar yang kemudian dikenal
dengan sebutan Danau Bandung atau Danau Bandung Purba. Berdasarkan
hasil penelitian geologi, air Danau Bandung diperkirakan mulai surut
pada masa neolitikum (± 8000 - 7000 sebelum Masehi). Proses surutnya
air danau itu berlangsung secara bertahap dalam waktu berabad-abad.

Secara historis, kata atau nama Bandung mulai dikenal sejak di daerah
bekas danau tersebut berdiri pemerintah Kabupaten bandung (sekitar
decade ketiga abad ke-17). Dengan demikian, sebutan Danau Bandung
terhadap danau besar itu pun terjadi setelah berdirinya Kabupaten
Bandung.

Berdirinya Kabupaten Bandung

Sebelum Kabupaten Bandung berdiri, daerah Bandung dikenal dengan
sebutan "Tatar Ukur". Menurut naskah Sadjarah Bandung, sebelum
Kabupaten Bandung berdiri, Tatar Ukur adalah termasuk daerah Kerajaan
Timbanganten dengan ibukota Tegalluar. Kerajaan itu berada dibawah
dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran. Sejak pertengahan abad ke-15,
Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun temurun oleh Prabu
Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan
Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas,
mencakup sebagian besar wilayah Jawa Barat, terdiri atas sembilan
daerah yang disebut "Ukur Sasanga".

Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan
Pasukan banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa
Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang,
penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan
diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun pada (1580-1608), dengan
ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak sebelah Barat kota
Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi daerah yang
kemudian disebut Priangan, kecuali daerah Galuh (sekarang bernama
Ciamis).

Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Suriadiwangsa,
anak tiri Geusan Ulun dari rtu Harisbaya, Sumedanglarang menjadi daerah
kekuasaan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedanglarang pun
berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang.
Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian
Barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten dan atau Kompeni
yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan
Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan konflik dengan
Kesultanan Banten.

Untuk mengawasi wilayah Priangan, Sultan Agung mengangkat Raden Aria
Suradiwangsa menjadi Bupati Wedana (Bupati Kepala) di Priangan
(1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, terkenal
dengan sebutan Rangga Gempol I.

Tahun 1624 Sultan agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan
daerah Sampang (Madura). Karenanya, jabatan Bupati Wedana Priangan
diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I pangeran Dipati Rangga Gede.
Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai Bupati
Wedana, Sumedang diserang oleh Pasukan Banten. Karena sebagian Pasukan
Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat
mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari
Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan
Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat ia
harus dapat merebut Batavia dari kekuasaan Kompeni.

Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu
pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Akan tetapi serangan itu
mengalami kegagalan. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekwensi
dari kegagalan itu ia akan mendapat hukuman seperti yang diterima oleh
Pangeran Dipati Rangga gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh
karena itu Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap
Mataram. Setelah penyerangan terhadap Kompeni gagal, mereka tidak
datang ke Mataram melaporkan kegagalan tugasnya. Tindakan Dipati Ukur
itu dianggap oleh pihak Mataram sebagai pemberontakan terhadap penguasa
Kerajaan Mataram.

Terjadinya pembangkangan Dipati Ukur beserta para pengikutnya
dimungkinkan, antara lain karena pihak Mataram sulit untuk mengawasi
daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara Pusat
Kerajaan Mataram dengan daerah Priangan. Secara teoritis, bila daerah
tersebut sangat jauh dari pusat kekuasaan, maka kekuasaan pusat di
daerah itu sangat lemah. Walaupun demikian, berkat bantuan beberapa
Kepala daerah di Priangan, pihak Mataram akhirnya dapat memadamkan
pemberontakan Dipati Ukur. Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati
Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (daerah Bandung) pada tahun 1632.

Setelah "pemberontakan" Dipati Ukur dianggap berakhir, Sultan Agung
menyerahkan kembali jabatan Bupati Wedana Priangan kepada Pangeran
Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya. Selain itu juga
dilakukan reorganisasi pemerintahan di Priangan untuk menstabilkan
situasi dan kondisi daerah tersebut. Daerah Priangan di luar Sumedang
dan Galuh dibagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung,
Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sukapura dengan cara mengangkat
tiga kepala daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa menumpas
pemberontakan Dipati Ukur.

Ketiga orang kepala daerah dimaksud adalah Ki Astamanggala, umbul
Cihaurbeuti diangkat menjadi mantri agung (bupati) Bandung dengan gelar
Tumenggung Wiraangunangun, Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang dan
Ngabehi Wirawangsa menjadi bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung
Wiradadaha. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan
berdasarkan "Piagem Sultan Agung", yang dikeluarkan pada hari Sabtu
tanggal 9 Muharam Tahun Alip (penanggalan Jawa). Dengan demikian,
tanggal 9 Muharam Taun Alip bukan hanya merupakan hari jadi Kabupagten
Bandung tetapi sekaligus sebagai hari jadi Kabupaten Sukapura dan
Kabupaten Parakanmuncang.

Berdirinya Kabupaten Bandung, berarti di daerah Bandung terjadi
perubahan terutama dalam bidang pemerintahan. Daerah yang semula
merupakan bagian (bawahan) dari pemerintah kerajaan (Kerajaan
Sunda-Pajararan kemudian Sumedanglarang) dengan status yang tidak
jelas, berubah menjadi daerah dengan sttus administrative yang jelas,
yaitu kabupaten.

Setelah ketiga bupati tersebut dilantik di pusat pemerintahan Mataram,
mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung (naskah)
menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumeggung Wiraangunangun beserta
pengikutnya dari Mataram kembali ke Tatar Ukur. Pertama kali mereka
dating ke Timbanganten. Di sana bupati Bandung mendapatkan 200 cacah.
Selanjutnya Tumenanggung Wiraangunangun bersama rakyatnya membangun
Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungat Citarum dekat muara
Sungai Cikapundung, (daerah pinggiran Kabupaten Bandung bagian Selatan)
sebagai ibukota kabupaten. Sebagai daerah pusat kabupaten Bandung,
Krapyak dan daerah sekitarnya disebut Bumi kur Gede.

Wilayah administrative Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram
(hingga akhir abad ke-17), belum diketahui secara pasti, karena sumber
akurat yang memuat data tentang hal itu tidak/belum ditemukan. Menurut
sumber pribumi, data tahap awal Kabupaten Bandung meliputi beberapa
daerah antara lain Tatar Ukur, termasuk daerah Timbanganten, Kuripan,
Sagaraherang, dan sebagian Tanahmedang.

Boleh jadi, daerah Priangan di luar Wilayah Kabupaten Sumedang,
Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula merupakan wilayah Tatar
Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan
wilayah administrative Kabupaten Bandung waktu itu. Bila dugaan ini
benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak, wilayahnya
mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin,
Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung dan
lain-lain, termasuk daerah Kuripan, Sagaraherang dan Tanahmedang.

Kabupaten Bandung sebagai salah satu Kabupaten yang dibentuk Pemerintah
Kerajaan Mataram, dan berada di bawah pengaruh penguasa kerajaan
tersebut, maka sistem pemerintahan Kabupaten Bandung memiliki sistem
pemerintahan Mataram. Bupati memiliki berbagai jenis symbol kebesaran,
pengawal khusus dan prajurit bersenjata. Simbol dan atribut itu
menambah besar dan kuatnya kekuasaan serta pengaruh Bupti atas
rakyatnya.

Besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati, antara lain ditunjukkan oleh
pemilikan hak-hak istimewa yang biasa dmiliki oleh raja. Hak-hak
dimaksud adalah hak mewariskan jabatan, ha memungut pajak dalam bentuk
uang dan barang, ha memperoleh tenaga kerja (ngawula), hak berburu dan
menangkap ikan dan hak mengadili.

Dengan sangat terbatasnya pengawasan langsung dari penguasa Mataram,
maka tidaklah heran apabila waktu itu Bupati Bandung khususnya dan
Bupati Priangan umumnya berkuasa seperti raja. Ia berkuasa penuh atas
rakyat dan daerahnya. Sistem pemerinatahn dan gaya hidup bupati
merupakan miniatur dari kehidupan keraton. Dalam menjalankan tugasnya,
bupati dibantu oleh pejabat-pejabat bawahannya, seperti patih, jaksa,
penghulu, demang atau kepala cutak (kepala distrik), camat (pembantu
kepala distrik), patinggi (lurah atau kepala desa) dan lain-lain.

Kabupaten Bandung berada dibawah pengaruh Mataram sampai akhir tahun
1677. Kemudian Kabupaten Bandung jatuh ketangan Kompeni. Hal itu
terjadi akibat perjanjian Mataram-Kompeni (perjanjian pertama) tanggal
19-20 Oktober 1677. Di bawah kekuasaan Kompeni (1677-1799), Bupati
Bandung dan Bupati lainnya di Priangan tetap berkedudukan sebagai
penguasa tertinggi di kabupaten, tanpa ikatan birokrasi dengan Kompeni.

Sistem pemerintahan kabupaten pada dasarnya tidak mengalami perubahan,
karena Kompeni hanya menuntut agar bupati mengakui kekuasaan Kompeni,
dengan jaminan menjual hasil-hasil bumi tertentu kepada VOC. Dalam hal
ini bupati tidak boleh mengadakan hubungan politik dan dagang dengan
pihak lain. Satu hal yang berubah adalah jabatan bupati wedana
dihilangkan. Sebagai gantinya, Kompeni mengangkat Pangeran Aria Cirebon
sebagai pengawas (opzigter) daerah Cirebon-Priangan (Cheribonsche
Preangerlandan) .

Salah satu kewajiban utama bupati terhadap kompeni adalah melaksanakan
penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi, dan menyerahkan
hasilnya. Sistem penanaman wajib itu disebut Preangerstelsel. Sementara
itu bupati wajib memelihara keamanan dan ketertiban daerah
kekuasaannya. Bupati juga tidak boleh mengangkat atau memecat pegawai
bawahan bupati tanpa pertimbangan Bupati Kompeni atau penguasa Kompeni
di Cirebon. Agar bupati dapat melaksanakan kewajiban yang disebut
terakhir dengan baik, pengaruh bupati dalam bidang keagamaan, termasuk
penghasilan dari bidang itu, seperti bagian zakar fitrah, tidak
diganggu baik bupati maupun rakyat (petani) mendapat bayaran atas
penyerahan kopi yang besarnya ditentukan oleh Kompeni.

Hingga berakhirnya kekuasaan Kompeni-VOC akhir tahun 1779, Kabupaten
Bandung beribukota di Krapyak. Selama itu Kabupaten Bandung diperintah
secara turun temurun oleh enam orang bupati. Tumenggung Wiraangunangun
(merupakan bupati pertama) ankatan Mataram yang memerintah sampai tahun
1681. Lima bupati lainnya adalah bupati angkatan Kompeni yakni
Tumenggung Ardikusumah yang memerintah tahun 1681-1704, Tumenggung
Anggadireja I (1704-1747), Tumenggung Anggadireja II (1747-1763), R.
Anggadireja III dengan gelar R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) dan
R.A. Wiranatakusumah II yang memerintah dari tahun 1794 hingga tahun
1829. Pada masa pemerintahan bupati R.A. Wiranatakusumah II, ibukota
Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak ke Kota Bandung.

Berdirinya Kota Bandung

Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati RA Wiranatakusumah II,
kekuasaan Kompeni di Nusantara berakhir akibat VOC bangkrut (Desember
1799). Kekuasaan di Nusantara selanjutnya diambil alih oleh Pemerintah
Hindia Belanda dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels
(1808-1811).

Sejalan dengan perubahan kekuasaan di Hindia Belanda, situasi dan
kondisi Kabupaten Bandung mengalami perubahan. Perubahan yang pertama
kali terjadi adalah pemindahan ibukota kabupaten dari Krapyak di bagian
Selatan daerah Bandung ke Kota Bandung yang ter;etak di bagian tengah
wilayah kabupaten tersebut.

Antara Januari 1800 sampai akhir Desember 1807 di Nusantara umumnya dan
di Pulau Jawa khususnya, terjadi vakum kekuasaan asing (penjajah),
karena walaupun Gubernur Jenderal Kompeni masih ada, tetapi ia sudah
tidak memiliki kekuasaan. Bagi para bupati, selama vakum kekuasaan itu
berarti hilangnya beban berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi
bagi kepentingan penguasa asing (penjajah). Dengan demikian, mereka
dapat mencurahkan perhatian bagi kepentingan pemerintahan daerah
masing-masing. Hal ini kiranya terjadi pula di Kabupaten Bandung.

Menurut naskah Sadjarah Bandung, pada tahun 1809 Bupati Bandung
Wiranatakusumah II beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Karapyak ke
daerah sebelah Utara dari lahan bakal ibukota. Pada waktu itu lahan
bakal Kota Bandung masih berupa hutan, tetapi di sebelah utaranya sudah
ada pemukiman, yaitu Kampung Cikapundung Kolot, Kampung Cikalintu, dan
Kampung Bogor. Menurut naskah tersebut, Bupati R.A. Wiranatakusumah II
pindah ke Kota Bandung setelah ia menetap di tempat tinggal sementara
selama dua setengah tahun.

Semula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti) kemudian ia
pindah Balubur Hilir. Ketika Deandels meresmikan pembangunan jembatan
Cikapundung (jembatan di Jl. Asia Afrika dekat Gedung PLN sekarang),
Bupati Bandung berada disana. Deandels bersama Bupati melewati jembatan
itu kemudian mereka berjalan ke arah timur sampai disuatu tempat (depan
Kantor Dinas PU Jl. Asia Afrika sekarang). Di tempat itu deandels
menancapkan tongkat seraya berkata: "Zorg, dat als ik terug kom hier
een stad is gebouwd!" (Usahakan, bila aku datang kembali ke sini,
sebuah kota telah dibangun!". Rupanya Deandels menghendaki pusat kota
Bandung dibangun di tempat itu.

Sebagai tindak lanjut dari ucapannya itu, Deandels meminta Bupati
Bandung dan Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten
masing-masing ke dekat Jalan Raya Pos. Permintaan Deandels itu
disampaikan melalui surat tertanggal 25 Mei 1810.

Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan
pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum
tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25
September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan
(besluit), maka secara yuridis formal (dejure) ditetapkan sebagai Hari
Jadi Kota Bandung.

Boleh jadi bupati mulai berkedudukan di Kota Bandung setelah di sana
terlebih dahulu berdiri bangunan pendopo kabupaten. Dapat dipastikan
pendopo kabupaten merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk pusat
kegiatan pemerintahan Kabupaten Bandung.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung
sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan
Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan
bahwa bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding
father) kota Bandung.

Berkembangnya Kota Bandung dan letaknya yang strategis yang berada di
bagian tengah Priangan, telah mendorong timbulnya gagasan Pemerintah
Hindia Belanda pada tahun 1856 untuk memindahkan Ibukota Keresiden
priangan dari Cianjur ke Bandung. Gagasan tersebut karena berbagai hal
baru direalisasikan pada tahun 1864. Berdasarkan Besluit Gubernur
Jenderal tanggal 7 Agustus 1864 No.18, Kota Bandung ditetapkan sebagai
pusat pemerintahan Keresidenan Priangan. Dengan demikian, sejak saat
itu Kota Bandung memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai Ibukota Kabupaten
Bandung sekaligus sebagai ibukota Keresidenan Priangan. Pada waktu itu
yang menjadi Bupati Bandung adalah R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874).

Sejalan dengan perkembangan fungsinya, di Kota Bandung dibangun gedung
keresidenan di daerah Cicendo (sekarang menjadi Rumah Dinas Gubernur
Jawa Barat) dan sebuah hotel pemerintah. Gedung keresidenan selesai
dibangun tahun 1867.

Perkembangan Kota Bandung terjadi setelah beroperasi transportasi
kereta api dari dan ke kota Bandung sejak tahun 1884. Karena Kota
Bandung berfungsi sebagai pusat kegiatan transportasi kereta api "Lin
Barat", maka telah mendorong berkembangnya kehidupan di Kota Bandung
dengan meningkatnya penduduk dari tahun ke tahun.
Di penghujung abad ke-19, penduduk golongan Eropa jumlahnya sudah
mencapai ribuan orang dan menuntut adanya lembaga otonom yang dapat
mengurus kepentingan mereka. Sementara itu pemerintah pusat menyadari
kegagalan pelaksanaan sistem pemerintahan sentralistis berikut
dampaknya. Karenanya, pemerintah sampai pada kebijakan untuk mengganti
sistem pemerintahan dengan sistem desentralisasi, bukan hanya
desentralisasi dalam bidang keuangan, tetapi juga desentralisasi dalam
pemberian hak otonomi bidang pemerintahan (zelfbestuur)

Dalam hal ini, pemerintah Kabupaten Bandung di bawah pimpinan Bupati
RAA Martanagara (1893-1918) menyambut baik gagasan pemerintah kolonial
tersebut. Berlangsungnya pemerintahan otonomi di Kota Bandung, berarti
pemerintah kabupaten mendapat dana budget khusus dari pemerintah
kolonial yang sebelumnya tidak pernah ada.

Berdasarkan Undang-undang Desentralisasi (Decentralisatiewet ) yang
dikeluarkan tahun 1903 dan Surat Keputusan tentang desentralisasi
(Decentralisasi Besluit) serta Ordonansi Dewan Lokal (Locale Raden
Ordonantie) sejak tanggal 1 April 1906 ditetapkan sebagai gemeente
(kotapraja) yang berpemerintahan otonomom. Ketetapan itu semakin
memperkuat fungsi Kota Bandung sebagai pusat pemerintahan, terutama
pemerintahan Kolonial Belanda di Kota Bandung. Semula Gemeente Bandung
Dipimpin oleh Asisten Residen priangan selaku Ketua Dewan Kota
(Gemeenteraad) , tetapi sejak tahun 1913 gemeente dipimpin oleh
burgemeester (walikota).

Selasa, 02 November 2010

SOAL UTS PAI SMT1

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BANDUNG
SEKOLAH DASAR NEGERI LAGADAR II MARGAASIH
ULANGAN TENGAH SEMESTER I ( UTS )
TAHUN AJARAN  2009-2010
 

Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam                             N a m a           : ...............................
Waktu              :  60 menit                                                       Kelas                :  5 ( lima )
I              BERILAH TANDA SILANG PADA HURUF A, B, C ATAU  D  DI DEPAN YANG BENAR !
1.       Lanjutan dari kata            مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ     adalah :
a.       ذَاتَ لَهَبٍ                           c.  الْحَطَبِ
b.      مِنْ مَسَدٍ                           d. وَمَا كَسَبَ
2.       وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ Adalah bacaan surat al lahab ayat :
a.      Ayat  1                   b. ayat 2                      c. ayat 3                      d. Ayat 4
3.       Pada bacaan     وَلا أَنْتُمْ             terdapat hukum bacaan :
a.      Idhar                      b. idgham                    c. Iklab                         d. Ikhfa
4.       Yang termasuk bacaan qolqolah adalh :
a.     مَا أَغْنَى عَنْهُ         b. وَتَبَّ               c. الْكَافِرُونَ           d. وَلِيَ دِينِ
5.       لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ayat tersebut artinya adalah :
a.       Bagiku agamamu                                      c. Bagimu agamamu, bagiku agamaku
b.      Bagimu agamaku                                      d. Bagimu agamaku, bagiku agamamu
6.       Ayat yang sama pada surat al kafirun tercantu pada ayat :
a.       3 dan 5                b. 2 dan 3                     c. 3 dan 4                       d. 5 dan 6
7.       Maksud dari  “ dan begitu pula istrinya pembawa kayu bakar”, adalah :
a.       Suka ngambil kayu   b. Penyebar fitnah    c. Suka masak               d. Suka membakar
8.       Iman kepada kitab Allah termasuk rukun iman yang ke :
a.       Satu                      b. dua                         c. Tiga                          d. Empat
9.       Yang tidak termasuk kitab Allah adala :
a.       Al quran               b. injil                          c. Tauret                       d. Yahudza
10.   Kitab yang harus kita pelajari dan amalkan sekarang adalah :
a.   Al quran               b. injil                           c. Tauret                       d. Zabur
11.   Isi pokok kitab al quran mengajarkan kepada kita agar selalu  :
a.   Beribadah             b. beniat                       c. Selamat                    d. Bersalaman
12.   Kitab Tauret diterima oleh nabi :
a.       Muhammad Sa     b. Isa As                     c. Musa As                   d. Daud As

13.   Nabi yang ibunya Mariam Menerima  kitab :
a.   Al quran                         b. injil                           c. Tauret                        d. Zabu
14.   Kitab yang turunnya sebelim kitab injil adalah :
a.   Al quran                        b. Yahudza                   c. Tauret                         d. Zabur
15.   Al quran mengandung pengertian :
a.       Bacaan                          b. pembukaan                   c. Bacalah                            d. Petunjuk
16.   Apabila kita membaca  Al quran maka kita akan :
a.       Gelisah                         b. Susah                               c. Soleh                          d. Tentram, tenang
17.   Al quran berisi tentang janji dan :
a.       Surga                             b . Neraka                           c. Ancaman                  d. Kitab Allah
18.   Ujian Allah yang diterima nabi Ayub As adala :
a.       Istrinya meninggal   b. anaknya nakal              c.Hartanya terbakar        d. Rumahnya mewah
19.   Nabi Musa As Harus menyampaikan ajarannya, walaupun kepada :
a.       Penguasa zalim         b. Binatang ternak           c. Mahluq lain                    d. Kakeknya
20.   Para sahabat  Nabi Isa As adalah :
a.       Muhajirin                    b. Kaum Anshar                 c. Bani Israil                         d. Kaum Hawariyyun

II.        ISILAH TITIK-TITIK DI BAWAH INI DENGAN BENAR !

21.   Surat  Al kafirun ayat ke 4 berbunyi....
22.   Pada tiap akhir ayat surat Al lahab dibaca memantul hukum bacaan tajwidnya adalah....
23.   Lanjutan arti dari, dan Aku tidak akan menyembah....
24.   Lanjuran dari bacaan                      وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ adalah ....
25.   Allah menurunkan Kitabnya agar dijadikan.... dalam hidupnya.
26.   Umat nabi Daud As berpedoman pada kitab ....
27.   Nama lain dari Al quran Al furqan artinya ....
28.   Apabila berpedoman pada Al quran maka hidupnya akan berbahagia di....
29.   Didalam Al quran terkadung agar manusia bertaqwa kepada ....
30.   Nabi ayau menerima cobaan sakit selama....
III.      JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN BENAR !
31.   Berilah contoh bacaan Qolqolah sugra dan kubra !
32.   Apakah arti dari                                فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ ?
33.   Tulislah nama-nama kitab Allah dan rasul penerimanya !
34.   Sebutkanlah isi pokok Al quran !
35.   Tulislah mukjizat Nabi Musa As dan Nabi Isa As !
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BANDUNG
SEKOLAH DASAR NEGERI LAGADAR II MARGAASIH
ULANGAN TENGAH SEMESTER I ( UTS )
TAHUN AJARAN  2009-2010


 

Mata Pelajaran: Pendidikan Agama Islam                             N a m a           : ...............................
Waktu              :  60 menit                                                       Kelas                :  6 ( enam )
I              BERILAH TANDA SILANG PADA HURUF A, B, C ATAU  D  DI DEPAN YANG BENAR !
1.         مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ.....Bacaan sebelumnya adalah :
a.    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ        b.  لَيْلَةُ الْقَدْرِ           c. سَلامٌ هِيَ        d. وَمَا أَدْرَاكَ  
2.         Surat Al qadar dalam shalat dibaca pada rakaat ke :
a.    Satu                       b. Tiga                         c. Lima                         d. Tujuh
3.         Pada bacaan     اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  terdapat hukum bacaan :
a.    Idhar                     b. idgham                    c. Iklab                         d. Qolqolah
4.         Pada bacaan  أَنْزَلْنَاهُ terdapat hukum bacaan :
a.    Idhar                     b. idgham                    c. Ikhfa                                    d. Qolqolah
5.         Al alaq artinya :
a.    Segumpal darah   b. Kemulyaan              c. Bacalah                                 d. Menciptakan
6.         Surat Al alaq ayat 5 berbunyi :
a.      اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ                c. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
b.      خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ                  d.  اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ
7.         مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  artinya :
a.    Seribu bulan               b. seribu tahun                  c. Kemulyaan                     d. Segal urusan
8.         Lailatul qadar terjadi pada bulan :
a.    Januari                        b. September                    c. Ramadhan                      d. Sawwal
9.         Hancurnya dunia dan isinya disebut kiamat :
a.       Kubra                         b. Sugra                                c .Kecil                       d. Mati
10.      Terjadinya gempa bumi di Sumatra, termasuk kiamat :
a.       Kubra                         b. Sugra                                c . besar                       d. Menengah
11.      Tempat berkumpul manusia setelah di alam kubur adalah
a.       Baats                          b. Mizan                               c. Surga                      d. Mahsyar
12.      Setelah  alam barzah adalah :
a.    Baats                            b. Mizan                               c. Surga                      d. Mahsyar

13.      Sebagai tanda akan datangnya kiamat kubra adalah :
a.       Terjadi gempa        b. keluarnya dajal            c. Meninggal                      d. Sakit
14.      Sebelum kiamat , matahari akan terbit dari sebelah :
a.       Kiri                            b. kanan                           c. Barat                              d. Timur

15.      Dengan terjadinya gempa bumi, maka sikap klita adalah :
a.       Hati-hati                    b. Biasa saja                      c. Sedih                              d. Senang
16.      Abu Lahab selalu menghalangi :
a.       Solat nabi                 b. istri nabi                          c. Dakwah nabi                  d. Kejelekan
17.      Arti dari Abu Jahal adalah :
a.       Bapak dosa              b. Bapak kebodohan            c. Bapak Uzza                    d. Bapak Bohong
18.      Abu Jahal pernah melempar Nabi Muhammad dengan :
a.       Pasir                           b. Debu                                                c. Air                                      d. Batu
19.      Musailamah  mengaku dirinya sebagai :
a.       Paman Nabi             b. Rasul                                  c. Orang islam                    d. Sahabat nabi
20.      Musailamah Al kadzab terbunuh dalam perang :
a.       Badar                      b. Yamamah                           c. Uhud                               d. Parit

II.        ISILAH TITIK-TITIK DI BAWAH INI DENGAN BENAR !

21.      Surat Al alaq ayat ke 4 berbunyi ....
22.      Al quran Surat yang pertama turun kepada nabi Muhammad Saw adalah ....
23.      Yaumul mizan artinya....
24.      Sebelum  yaumul mizan  amal manusia dihitung, hari perhitungan disebut....
25.      Kiamat akan datang setelah Nabi Isa As....
26.      Malaikat yang bertugas mencatat amal perbuatan manusia adalah ....
27.      Anak  yang shaleh akan senantiasa....
28.      Sifat tercela Istri Abu Jahal adalah ....
29.      Sifat tercela disebut akhlaqul....
30.      Karena Pembohong sehingga Musailamah diberi gelar ....

III.      JAWABLAH PERTANYAAN DI BAWAH INI DENGAN BENAR !

31.      Tulislah surat Al qadar dan Al alaq ayat 1 dan 3 !
32.      Apakah artinya               سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ?
33.      Tulislah isi kandungan dari QS Al al alaq !
34.      Tulislah Tanda-tanda kiamat kubra 4 saja !
35.      Apakah artinya munafiq dan sebutkan tanda-tandanya !